A. Latar Belakang
Strategi
pembangunan nasional untuk mewujudkan Indonesia sehat 2010 adalah menerapkan
pembangunan nasional berwawasan kesehatan, yang berarti setiap upaya program pembangunan harus
mempunyai konstribusi positif terhadap terbentuknya lingkungan sehat dan
perilaku sehat. Pembangunan kesehatan mengacu pada Paradigma sehat yaitu pembangunan kesehatan yang
memberikan prioritas utama pada upaya peningkatan pelayanan kesehatan dan
pencegahan penyakit (Pusdiklatnakes, 2006). Program pembangunan kesehatan di
Indonesia di terjemahkan dalam Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RJPMN) 2005-2009 mempunyai visi
masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat, salah satu targetnya adalah
menurunkan angka kematian ibu dan kematian bayi. Di mana untuk mencapai
penurunan tersebut ditandai dengan peningkatan cakupan imunisasi (DepKes
RI,2007).
Indikator
dalam mengukur derajat kesehatan masyarakat diantaranya angka kematian ibu dan
angka kematian bayi. Hal ini disebabkan oleh ibu dan bayi merupakan kelompok
yang mempunyai tingkat kerentanan yang besar terhadap penyakit dan kematian.
Target pencapaian Millenium Development
Goals (MDGs), Dapertemen kesehatan telah mematok target penurunan Angka
Kematian Bayi (AKB) di Indonesia dari rata rata 36 meninggal per
1.000 kehidupan hidup
menjadi 23 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2015. Hasil survei Kesehatan
Rumah Tangga 2007 (SKRT) di Indonesia kematian disebabkan oleh sepsis, kelainan
bawaan, dan infeksi saluran pernapasan atas.
Profil epedemiologis di Indonesia sebagai gambaran
tingkat kesehatan di masyarakat masih memerlukan perhatian khusus yang diantaranya adalah eliminasi tetanus
neonatorum mengutamakan pada peningkatan cakupan imunisasi Tetanus Teksoid (TT)
pada wanita usia subur dan ibu hamil. Upaya peningkatan Surveilance tetanus neonatorum, yaitu peningkatan upaya program
imunisasi TT pada wanita usia subur (WUS) melalui program imunisasi TT WUS lima
dosis yang akan diberikan perlindungan 99% dan lama perlindungan seumur hidup
(WHO,1986). Selain itu untuk meningkatkan upaya program imunisasi TT pada
wanita usia subur diperlukan kerja sama dan koordinasi dengan berbagai pihak
antara lain dengan lintas program,lintas sektoral,hal ini bekerja sama dengan
pihak kantor urusan agama,pada saat sebelum menikah calon pengantin wanita
memperoleh imunisasi tetanus teksoid dosis pertama yang kemudian di lanjutkan
dengan dosis kedua dan seterusnya .
Provinsi Jawa Tengah imunisasi tetanus teksoid pada
wanita usia subur dan ibu hamil baru mencapai 74% (Dinkes Prov. Jateng, 2008).
Kabupaten Purworejo dengan Jumlah Puskesmas 27 Puskesmas melaksanakan program
imunisasi Tetanus Teksoid (TT) Wanita Usia Subur (WUS) dengan jumlah sasaran
WUS 166.974 jiwa, tahun 2008 baru mencapai TTI 7,4% dan TT2 3,0%. Wilayah kerja
Puskesmas Bubutan dengan jumlah
26 desa jumlah sasaran
WUS 6.590 jiwa. Hasil pencapaian di Puskesmas Bubutan dari bulan Januari sampai
dengan November tahun 2009, TTI WUS adalah 2,5% dan TT2 WUS adalah 0,5%.
Sasaran WUS di Desa Sidoharjo 269 jiwa. Berdasarkan laporan hasil cakupan
imunisasi TT Puskesmas dari bulan Januari sampai bulan November 2009 desa
Sidoharjo pencapaian imunisasi TT adalah TTI 5,1%, TT2 1,2%, dari target yang
di tentukan tahun 2009 adalah 80% (Dikes.RI, 2009). Hasil Studi pendahuluan
Bulan November 2009 yang dilakukan pada 10 orang responden yaitu dari hasil
wawancara tentag imunisasi TT dengan WUS di Desa Sidoharjo menjawab belum
mengerti tentang imunisasi TT sembilan orang. Maka berdasarkan data dan hasil
studi pendahuluan tersebut, penulis ingin meneliti bagaimana tingkat
pengetahuan wanita usia subur tentang imunisasi Tetanus Teksoid.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar