Rabu, 03 Mei 2017

Strategi Indonesia Sehat

A. Latar Belakang
Strategi pembangunan nasional untuk mewujudkan Indonesia sehat 2010 adalah menerapkan pembangunan nasional berwawasan kesehatan, yang berarti  setiap upaya program pembangunan harus mempunyai konstribusi positif terhadap terbentuknya lingkungan sehat dan perilaku sehat. Pembangunan kesehatan mengacu pada Paradigma  sehat yaitu pembangunan kesehatan yang memberikan prioritas utama pada upaya peningkatan pelayanan kesehatan dan pencegahan penyakit (Pusdiklatnakes, 2006). Program pembangunan kesehatan di Indonesia di terjemahkan dalam Rencana  Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RJPMN) 2005-2009 mempunyai visi masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat, salah satu targetnya adalah menurunkan angka kematian ibu dan kematian bayi. Di mana untuk mencapai penurunan tersebut ditandai dengan peningkatan cakupan imunisasi (DepKes RI,2007).
Indikator dalam mengukur derajat kesehatan masyarakat diantaranya angka kematian ibu dan angka kematian bayi. Hal ini disebabkan oleh ibu dan bayi merupakan kelompok yang mempunyai tingkat kerentanan yang besar terhadap penyakit dan kematian. Target pencapaian Millenium Development Goals (MDGs), Dapertemen kesehatan telah mematok target penurunan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia dari rata rata 36 meninggal per


1.000 kehidupan hidup menjadi 23 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2015. Hasil survei Kesehatan Rumah Tangga 2007 (SKRT) di Indonesia kematian disebabkan oleh sepsis, kelainan bawaan, dan infeksi saluran pernapasan atas.
            Profil epedemiologis di Indonesia sebagai gambaran tingkat kesehatan di masyarakat masih memerlukan perhatian khusus  yang diantaranya adalah eliminasi tetanus neonatorum mengutamakan pada peningkatan cakupan imunisasi Tetanus Teksoid (TT) pada wanita usia subur dan ibu hamil. Upaya peningkatan Surveilance tetanus neonatorum, yaitu peningkatan upaya program imunisasi TT pada wanita usia subur (WUS) melalui program imunisasi TT WUS lima dosis yang akan diberikan perlindungan 99% dan lama perlindungan seumur hidup (WHO,1986). Selain itu untuk meningkatkan upaya program imunisasi TT pada wanita usia subur diperlukan kerja sama dan koordinasi dengan berbagai pihak antara lain dengan lintas program,lintas sektoral,hal ini bekerja sama dengan pihak kantor urusan agama,pada saat sebelum menikah calon pengantin wanita memperoleh imunisasi tetanus teksoid dosis pertama yang kemudian di lanjutkan dengan dosis kedua dan seterusnya .
            Provinsi Jawa Tengah imunisasi tetanus teksoid pada wanita usia subur dan ibu hamil baru mencapai 74% (Dinkes Prov. Jateng, 2008). Kabupaten Purworejo dengan Jumlah Puskesmas 27 Puskesmas melaksanakan program imunisasi Tetanus Teksoid (TT) Wanita Usia Subur (WUS) dengan jumlah sasaran WUS 166.974 jiwa, tahun 2008 baru mencapai TTI 7,4% dan TT2 3,0%. Wilayah kerja Puskesmas Bubutan dengan jumlah

26 desa jumlah sasaran WUS 6.590 jiwa. Hasil pencapaian di Puskesmas Bubutan dari bulan Januari sampai dengan November tahun 2009, TTI WUS adalah 2,5% dan TT2 WUS adalah 0,5%. Sasaran WUS di Desa Sidoharjo 269 jiwa. Berdasarkan laporan hasil cakupan imunisasi TT Puskesmas dari bulan Januari sampai bulan November 2009 desa Sidoharjo pencapaian imunisasi TT adalah TTI 5,1%, TT2 1,2%, dari target yang di tentukan tahun 2009 adalah 80% (Dikes.RI, 2009). Hasil Studi pendahuluan Bulan November 2009 yang dilakukan pada 10 orang responden yaitu dari hasil wawancara tentag imunisasi TT dengan WUS di Desa Sidoharjo menjawab belum mengerti tentang imunisasi TT sembilan orang. Maka berdasarkan data dan hasil studi pendahuluan tersebut, penulis ingin meneliti bagaimana tingkat pengetahuan wanita usia subur tentang imunisasi Tetanus Teksoid.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar