BAB
I
PENDAHULUAN
A.LATAR BELAKANG
Kesehatan merupakan
salah satu aspek dari kehidupan masyarakat mutu hidup, produktifitas tenaga
kerja, angka kesakitan dan kematian yang tinggi pada bayi dan anak-anak,
menurunnya daya kerja fisik serta terganggunya perkembangan mental adalah
akibat langsung atau tidak langsung dari masalah gizi kurang.
Sebagaimana diketahui
bahwa salah satu masalah gizi yang paling utama pada saat ini di Indonesia
adalah kurang kalori, protein hal ini banyak ditemukan bayi dan anak yang masih
kecil dan sudah mendapat adik lagi yang sering disebut “kesundulan” artinya
terdorong lagi oleh kepala adiknya yang telah muncul dilahirkan. Keadaan ini
karena anak dan bayi merupakan golongan rentan.
Terjadinya kerawanan
gizi pada bayi disebabkan karena selain makanan yang kurang juga karena Air
Susu Ibu (ASI) banyak diganti dengan susu botol dengan cara dan jumlah yang
tidak memenuhi kebutuhan. Hal ini pertanda adanya perubahan sosial dan budaya
yang negatif dipandang dari segi gizi
Pertumbuhan dan
perkembangan bayi sebagian besar ditentukan oleh jumlah ASI yang diperoleh
termasuk energi dan zat gizi lainnya yang terkandung di dalam ASI tersebut. ASI
tanpa bahan makanan lain dapat mencukupi kebutuhan pertumbuhan sampai usia
sekitar empat bulan. Setelah itu ASI hanya berfungsi sebagai sumber protein
vitamin dan mineral utama untuk bayi yang mendapat makanan tambahan yang
tertumpu pada beras.
Dalam pembangunan
bangsa, peningkatan kualitas manusia harus dimulai sedini mungkin yaitu sejak
dini yaitu sejak masih bayi, salah satu faktor yang memegang peranan penting
dalam peningkatan kualitas manusia adalah pemberian Air Susu Ibu (ASI).
Pemberian ASI semaksimal mungkin merupakan kegiatan penting dalam pemeliharaan
anak dan persiapan generasi penerus di masa depan. Akhir-akhir ini sering
dibicarakan tentang peningkatan penggunaan ASI.
Diperkirakan 80% dari
jumlah ibu yang melahirkan ternyata mampu menghasilkan air susu dalam jumlah
yang cukup untuk keperluan bayinya secara penuh tanpa makanan tambahan. Selama
enam bulan pertama. Bahkan ibu yang gizinya kurang baikpun sering dapat
menghasilkan ASI cukup tanpa makanan tambahan selama tiga bulan pertama.
ASI sebagai makanan
yang terbaik bagi bayi tidak perlu diragukan lagi, namun akhir-akhir ini sangat
disayangkan banyak diantara ibu-ibu meyusui melupakan keuntungan menyusui.
Selama ini dengan membiarkan bayi terbiasa menyusu dari alat pengganti, padahal
hanya sedikit bayi yang sebenarnya menggunakan susu botol atau susu formula.
Kalau hal yang demikian terus berlangsung, tentunya hal ini merupakan ancaman
yang serius terhadap upaya pelestarian dari peningkatan penggunaan ASI.
Hasil penelitian yang
dilakukan di Biro Konsultasi Anak di Rumah Sakit UGM Yogyakarta tahun 1976
menunjukkan bahwa anak yang disusui sampai dengan satu tahun 50,6%. Sedangkan
data dari survei Demografi Kesehatan Indonesia (SKDI) tahun 1991 bahwa ibu,
yang memberikan ASI pada bayi 0-3 bulan yaitu 47% diperkotaan dan 55%
dipedesaan (Depkes 1992) dari laporan SKDI tahun 1994 menunjukkan bahwa ibu-ibu
yang memberikan ASI EKSLUSIF kepada bayinya mencapai 47%, sedangkan pada
repelita VI ditargetkan 80%.
Dari hasil penelitian
yang dilakukan oleh Dr.Moh. Efendi di R.S. Umum
Dr. Kariadi Semarang tahun 1977 didapatkan pemberian ASI setelah umur 2 bulan
31,6%, ASI + Susu botol 15,8% dan susu botol 52,6%. Sedangkan sebelumnya yaitu
pada umur 1 bulan masih lebih baik yaitu 66,7% ASI dan 33,3% susu botol, dalam
hal ini tampaknya ada pengaruh susu botol lebih besar.
Juga hasil penelitian Dr. Parma dkk di
Rumah Sakit Umum Dr. M. Jamil Padang tahun 1978 -1979 di dapatkan bahwa lama
pemberian ASI saja sampai 4-6 bulan pada ibu yang karyawan adalah 12,63% dan
pada ibu rumah tangga sebanyak 21,27%. Apabila dilihat dari pendidikannya
ternyata 75% dari ibu-ibu yang berpendidikan tamat SD telah memberikan makanan
pendamping ASI yang terlalu dini pada bayi.
Berbagai alasan
dikemukakan oleh ibu-ibu mengapa keliru dalam pemanfaatan ASI secara Eksklusif
kepada bayinya, antara lain adalah produksi ASI kurang, kesulitan bayi dalam
menghisap, keadaan puting susu ibu yang tidak menunjang, ibu bekerja, keinginan
untuk disebut modern dan pengaruh iklan/promosi pengganti ASI dan tdak kalah
pentingnya adalah anggapan bahwa semua orang sudah memiliki pengetahuan tentang
manfaat ASI .
B.PERUMUSAN MASALAH.
Berdasarkan latar
belakang yang telah dikemukakan maka rumusan masalah dalam penulisan ini adalah
bagaimana pemberian ASI secara eksklusif saai umur bayi 4 bulan dan
faktor-faktor apa yang mempengaruhi pemberian ASI Eksklusif.
C.TUJUAN PENULISAN
1.Tujuan Umum
Tujuan umum dari penulisan ini adalah
untuk mengetahui pemberian ASI EKSKLUSIF dan faktor-faktor yang
mempengaruhinya.
2. Tujuan Khusus.
– Mengetahui cara pemberian ASI
EKSLUSIF pada bayi.
– Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi
pemberian ASI pada bayi
usia 4 bulan.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
1.
PENGERTIAN ASI EKSKLUSIF
Air Susu Ibu (ASI)
adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein, laktosa dan garam-garam
anorganik yang sekresi oleh kelenjar mamae ibu, yang berguna sebagai makanan
bagi bayinya. ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan dan minuman
tambahan lain pada bayi berumur nol sampai enam bulan. Bahkan air putih tidak
diberikan dalam tahap ASI eksklusif ini.
ASI dalam jumlah
cukup merupakan makanan terbaik pada bayi dan dapat memenuhi kebutuhan gizi
bayi selama 6 bulan pertama. ASI merupakan makanan alamiah yang pertama dan
utama bagi bayi sehingga dapat mencapai tumbuh kembang yang optimal. Pada tahun
2001 World Health Organization / Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan bahwa
ASI eksklusif selama enam bulan pertama hidup bayi adalah yang terbaik. Dengan
demikian, ketentuan sebelumnya (bahwa ASI eksklusif itu cukup empat bulan)
sudah tidak berlaku lagi.
2.
BAGAIMANA MENCAPAI ASI EKSKLUSIF
WHO dan UNICEF merekomendasikan
langkah-langkah berikut untuk memulai dan mencapai ASI eksklusif yaitu dengan
menyusui dalam satu jam setelah kelahiran Menyusui secara ekslusif: hanya ASI.
Artinya, tidak ditambah makanan atau minuman lain, bahkan air putih sekalipun.
Menyusui kapanpun bayi meminta (on-demand), sesering yang bayi mau, siang dan
malam. Tidak menggunakan botol susu maupun empeng.
Mengeluarkan ASI dengan memompa atau
memerah dengan tangan, disaat tidak bersama anak serta mengendalikan emosi dan
pikiran agar tenang.
3.
KESALAHPAHAMAN MENGENAI ASI EKSKLUSIF
Setelah ASI ekslusif
enam bulan tersebut, bukan berarti pemberian ASI dihentikan. Seiiring dengan
pengenalan makanan kepada bayi, pemberian ASI tetap dilakukan, sebaiknya
menyusui dua tahun menurut rekomendasi WHO
4.
KEBAIKAN ASI DAN MENYUSUI.
ASI sebagai makanan bayi mempunyai
kebaikan/sifat sebagai berikut:
a. ASI merupakan makanan alamiah yang
baik untuk bayi, praktis, ekonomis,
mudah dicerna untuk memiliki komposisi,
zat gizi yang ideal sesuai dengan
kebutuhan dan kemampuan pencernaan
bayi.
b. ASI mengadung laktosa yang lebih
tinggi dibandingkan dengan susu buatan.
Didalam usus laktosa akan dipermentasi
menjadi asam laktat. yang bermanfaat
untuk:
* Menghambat pertumbuhan bakteri yang
bersifat patogen.
* Merangsang pertumbuhan mikroorganisme
yang dapat menghasilkan asam
organik dan mensintesa beberapa jenis
vitamin.
* Memudahkan terjadinya pengendapan
calsium-cassienat.
* Memudahkan penyerahan herbagai jenis
mineral, seperti calsium,
magnesium.
c. ASI mengandung zat pelindung
(antibodi) yang dapat melindungi bayi selama 5-6 bulan pertama, seperti:
Immunoglobin, Lysozyme, Complemen C3 dan C4, Antistapiloccocus, lactobacillus,
Bifidus, Lactoferrin.
d. ASI tidak mengandung
beta-lactoglobulin yang dapat menyebabkan alergi pada
bayi.
e. Proses pemberian ASI dapat menjalin
hubungan psikologis antara ibu dan bayi.
Selain memberikan kebaikan bagi bayi,
menyusui dengan bayi juga dapat
memberikan keuntungan bagi ibu, yaitu:
a. Suatu rasa kebanggaan dari ibu,
bahwa ia dapat memberikan “kehidupan” kepada bayinya.
b. Hubungan yang lebih erat
karena secara alamiah terjadi kontak kulit yang erat, bagi perkembangan psikis
dan emosional antara ibu dan anak.
c. Dengan menyusui bagi rahim ibu akan
berkontraksi yang dapat menyebabkan pengembalian keukuran sebelum hamil
d. Mempercepat berhentinya
pendarahan post partum.
e. Dengan menyusui maka kesuburan ibu
menjadi berkurang untuk beberpa bulan (menjarangkan kehamilan)
f. Mengurangi kemungkinan kanker
payudara pada masa yang akan datang.
g. Menambah panjang kembalinya
kesuburan pasca melahirkan, sehingga
h. Memberi jarak antar anak yang lebih
panjang alias menunda kehamilan berikutnya
i. Karena kembalinya menstruasi
tertunda, ibu menyusui tidak membutuhkan zat besisebanyak ketika mengalami
menstruasi
j. Ibu lebih cepat langsing. Penelitian
membuktikan bahwa ibu menyusui enam bulan lebih langsing setengah kg dibanding
ibu yang menyusui empat bulan.
5.
MANFAAT ASI
Untuk Bayi
Pemberian ASI
merupakan metode pemberian makan bayi yang terbaik, terutama pada bayi umur
kurang dari 6 bulan, selain juga bermanfaat bagi ibu. ASI mengandung semua zat
gizi dan cairan yang dibutuhkan untuk memenuhi seluruh gizi bayi pada 6 bulan
pertama kehidupannya.Pada umur 6 sampai 12
bulan, ASI masih merupakan makanan utama bayi, karena mengandung lebih dari 60%
kebutuhan bayi. Guna memenuhi semua kebutuhan bayi, perlu ditambah dengan
Makanan Pendamping ASI (MP-ASI).
Setelah umur 1 tahun, meskipun ASI
hanya bisa memenuhi 30% dari kebutuhan bayi, akan tetapi pemberian ASI tetap
dianjurkan karena masih memberikan manfaat. ASI disesuaikan secara unik bagi
bayi manusia, seperti halnya susu sapi adalah yang terbaik untuk sapi.
6.
PROSES TERBENTUKNYA ASI
Tahapan-tahapan yang terjadi dalam
proses laktasi mencakup :
1. Mammogenesis : Terjadi pertumbuhan
payudara baik dari ukuran maupun berat dari payudara mengalami peningkatan.
2. Laktogenesis :
·
Tahap
1 (kehamilan akhir) : Sel alveolar berubah menjadi sel sekretoris
·
Tahap
2 (hari ke-3 hingga ke-8 kelahiran) : Mulai terjadi sekresi susu, payudara
menjadi penuh dan hangat. Kontrol endokrin beralih menjadi autokrin.
3. Galaktopoiesis
4. Involution
Komposisi ASI ideal untuk bayi
Dokter sepakat bahwa
ASI mengurangi resiko infeksi lambung-usus, sembelit, danalergi.Bayi ASI memiliki
kekebalan lebih tinggi terhadap penyakit. Contohnya, ketika si ibu tertular
penyakit (misalnya melalui makanan seperti gastroentretis atau polio), antibodi
sang ibu terhadap penyakit tersebut diteruskan kepada bayi melalui ASI.
Bayi ASI lebih bisa menghadapi efek kuning (jaundice). Level bilirubin
dalam darah bayi banyak berkurang seiring dengan diberikannya kolostrum dan
mengatasi kekuningan, asalkan bayi tersebut disusui sesering mungkin dan tanpa
pengganti ASI.
ASI selalu siap sedia setiap saat bayi
menginginkannya, selalu dalam keadaan steril dan suhu susu yang pas.
Dengan adanya kontak
mata dan badan, pemberian ASI juga memberikan kedekatan antara ibu dan anak.
Bayi merasa aman, nyaman dan terlindungi, dan ini mempengaruhi kemapanan emosi
si anak di masa depan. Apabila bayi sakit, ASI adalah makanan yang terbaik
untuk diberikan karena sangat mudah dicerna. Bayi akan lebih cepat sembuh. Bayi
prematur lebih cepat tumbuh apabila mereka diberikan ASI perah. Komposisi ASI
akan teradaptasi sesuai dengan kebutuhan bayi, dan ASI bermanfaat untuk
menaikkan berat badan dan menumbuhkan sel otak pada bayi prematur.
Untuk Ibu
1. Hisapan bayi membantu rahim menciut,
mempercepat kondisi ibu untuk kembali ke masa pra-kehamilan dan mengurangi
risiko perdarahan
2. Lemak di sekitar panggul dan paha
yang ditimbun pada masa kehamilan pindah ke dalam ASI, sehingga ibu lebih cepat
langsing kembali
3. Penelitian menunjukkan bahwa ibu
yang menyusui memiliki resiko lebih rendah terhadap kanker rahim dan kanker
payudara.
4. ASI lebih hemat waktu karena tidak
usah menyiapkan dan mensterilkan botol susu, dot, dsb
5. ASI lebih praktis karena ibu bisa
jalan-jalan ke luar rumah tanpa harus membawa banyak perlengkapan seperti
botol, kaleng susu formula, air panas, dsb
6. ASI lebih murah, karena tidak usah
selalu membeli susu kaleng dan perlengkapannya
7. ASI selalu bebas kuman, sementara
campuran susu formula belum tentu steril
Penelitian medis juga menunjukkan bahwa
wanita yang menyusui bayinya mendapat manfaat fisik dan manfaat emosional
8. ASI tak bakalan basi. ASI selalu
diproduksi oleh pabriknya di wilayah payudara. Bila gudang ASI telah kosong.
ASI yang tidak dikeluarkan akan diserap kembali oleh tubuh ibu. Jadi, ASI dalam
payudara tak pernah basi dan ibu tak perlu memerah dan membuang ASI-nya sebelum
menyusui.
Untuk Keluarga
1. Tidak perlu uang untuk membeli susu
formula, botol susu kayu bakar atau minyak untuk merebus air, susu atau
peralatan.
2. Bayi sehat berarti keluarga
mengeluarkan biaya lebih sedikit (hemat) dalam perawatan kesehatan dan
berkurangnya kekhawatiran bayi akan sakit.
3.Penjarangan kelahiran karena efek
kontrasepsi LAM dari ASI eksklusif.
4.Menghemat waktu keluarga bila bayi
lebih sehat.
5.Memberikan ASI pada bayi (meneteki)
berarti hemat tenaga bagi keluarga sebab ASI selalu siap tersedia.
6.Lebih praktis saat akan bepergian,
tidak perlu membawa botol, susu, air panas, dll.
Untuk Masyarakat dan Negara
1. Menghemat devisa negara karena tidak
perlu mengimpor susu formula dan peralatan lain untuk persiapannya.
2. Bayi sehat membuat negara lebih
sehat.
3. Terjadi penghematan pada sektor
kesehatan karena jumlah bayi sakit lebih sedikit.
4. Memperbaiki kelangsungan hidup anak
dengan menurunkan kematian.
5. Melindungi lingkungan karena tak ada
pohon yang digunakan sebagai kayu bakar untuk merebus air, susu dan
peralatannya.
6. ASI adalah sumber daya yang terus
menerus diproduksi dan baru.
PRODUKSI ASI
Proses terjadinya pengeluaran air susu
dimulai atau dirangsang oleh isapan mulut bayi pada putting susu ibu. Gerakan
tersebut merangsang kelenjar Pictuitary Anterior untuk memproduksi sejumlah
prolaktin, hormon utama yang mengandalkan pengeluaran Air Susu. Proses
pengeluaran air susu juga tergantung pada Let Down Replex, dimana hisapan
putting dapat merangsang kelenjar Pictuitary Posterior untuk menghasilkan
hormon oksitolesin, yang dapat merangsang serabutotot halus di dalam dinding
saluran susu agar membiarkan susu dapat mengalir secara lancar.
Kegagalan dalam perkembangan payudara
secara fisiologis untuk menampung air susu sangat jarang terjadi. Payudara
secara fisiologis merupakan tenunan aktif yang tersusun seperti pohon tumbuh di
dalam putting dengan cabang yang menjadi ranting semakin mengecil.
Susu diproduksi pada akhir ranting dan
mengalir kedalam cabang-cabang besar menuju saluran ke dalam putting. Secara
visual payudara dapat di gambarkan sebagai setangkai buah anggur, mewakili
tenunan kelenjar yang mengsekresi dimana setiap selnya mampu memproduksi susu,
bila sel-sel Myoepithelial di dalam dinding alveoli berkontraksi, anggur
tersebut terpencet dan mengeluarkan susu ke dalam ranting yang mengalir ke
cabang-cabang lebih besar, yang secara perlahan-lahan bertemu di dalam aerola
dan membentuk sinus lactiterous. Pusat dari areda (bagan yang berpigmen) adalah
putingnya, yang tidak kaku letaknya dan dengan mudah dihisap (masuk kedalam)
mulut bayi.
Berdasarkan waktu diproduksi, ASI dapat
dibagi menjadi 3 yaitu:
1. Colostrum merupakan cairan yang
pertama kali disekresi oleh kelenjar mamae yang mengandung tissue debris dan
redual material yang terdapat dalam alveoli dan ductus dari kelenjar mamae
sebelum dan segera sesudah melahirkan anak.
Tentang colostrum
– Disekresi oleh kelenjar mamae dari
hari pertama sampai hari ketiga atau
keempat, dari masa laktasi.
– Komposisi colostrum dari hari ke hari
berubah.
– Merupakan cairan kental yang ideal
yang berwarna kekuning-kuningan,
lebih kuning dibandingkan ASI Mature.
– Merupakan suatu laxanif yang ideal
untuk membersihkan meconeum usus
bayi yang baru lahir dan mempersiapkan
saluran pencernaan bayi untuk
menerima makanan selanjutnya.
– Lebih banyak mengandung protein
dibandingkan ASI Mature, tetapi
berlainan dengan ASI Mature dimana
protein yang utama adalah casein
pada colostrum protein yang utama
adalah globulin, sehingga dapat
memberikan daya perlindungan tubuh
terhadap infeksi.
– Lebih banyak mengandung antibodi
dibandingkan ASI Mature yang dapat
memberikan perlindungan bagi bayi
sampai 6 bulan pertama.
– Lebih rendah kadar karbohidrat dan
lemaknya dibandingkan dengan ASI
Mature.
– Total energi lebih rendah
dibandingkan ASI Mature yaitu 58 kalori/100 ml
colostrum.
– Vitamin larut lemak lebih tinggi.
Sedangkan vitamin larut dalam air dapat
lebih tinggi atau lebih rendah.
– Bila dipanaskan menggumpal, ASI
Mature tidak.
– PH lebih alkalis dibandingkan ASI
Mature.
– Lemaknya lebih banyak mengandung
Cholestrol dan lecitin di bandingkan
ASI Mature.
– Terdapat trypsin inhibitor, sehingga
hidrolisa protein di dalam usus bayi
menjadi krang sempurna, yangakan
menambah kadar antobodi pada bayi.
– Volumenya berkisar 150-300 ml/24 jam.
B. Air Susu Masa Peralihan (Masa
Transisi)
1. Merupakan ASI peralihan dari
colostrum menjadi ASI Mature.
2. Disekresi dari hari ke 4 – hari ke
10 dari masa laktasi, tetapi ada pula yang berpendapat bahwa ASI Mature baru
akan terjadi pada minggu ke 3 – ke 5.
3. Kadar protein semakin rendah,
sedangkan kadar lemak dan karbohidrat semakin tinggi.
4. Volume semakin meningkat.
C. Air Susu Mature
– ASI yang disekresi pada hari ke 10
dan seterusnya, yang dikatakan komposisinya relatif konstan, tetapi ada juga
yang mengatakan bahwa minggu ke 3 sampai ke 5 ASI komposisinya baru konstan.
– Merupakan makanan yang dianggap aman
bagi bayi, bahkan ada yang mengatakan pada ibu yangs ehat ASI merupakan makanan
satu-satunya yang diberikan selama 6 bulan pertama bagi bayi.
– ASI merupakan makanan yang mudah di
dapat, selalu tersedia, siap diberikan pada bayi tanpa persiapan yang khusus
dengan temperatur yang sesuai untuk bayi.
– Merupakan cairan putih
kekuning-kuningan, karena mengandung casienat, riboflaum dan karotin.
– Tidak menggumpal bila dipanaskan.
– Volume: 300 – 850 ml/24 jam
– Terdapat anti microbaterial factor,
yaitu:
• Antibodi terhadap bakteri dan virus.
• Cell (phagocyle, granulocyle,
macrophag, lymhocycle type T)
• Enzim (lysozime, lactoperoxidese)
• Protein (lactoferrin, B12 Ginding
Protein)
• Faktor resisten terhadap
staphylococcus.
• Complecement ( C3 dan C4)
Volume Produksi ASI
Pada minggu bulan terakhir kehamilan,
kelenjar-kelenjar pembuat ASI mulai menghasilkan ASI. Apabila tidak ada
kelainan, pada hari pertama sejak bayi lahir akan dapat menghasilkan 50-100 ml
sehari dari jumlah ini akan terus bertambah sehingga mencapai sekitar 400-450
ml pada waktu bayi mencapai usia minggu kedua.(9) Jumlah tersebut dapat dicapai
dengan menysusui bayinya selama 4 – 6 bulan pertama. Karena itu selama kurun
waktu tersebut ASI mampu memenuhi lkebutuhan gizinya. Setelah 6 bulan volume
pengeluaran air susu menjadi menurun dan sejak saat itu kebutuhan gizi tidak
lagi dapat dipenuhi oleh ASI saja dan harus mendapat makanan tambahan.
Dalam keadaan produksi ASI telah
normal, volume susu terbanyak yang dapat diperoleh adalah 5 menit pertama.
Penyedotan/penghisapan oleh bayi biasanya berlangsung selama 15-25 menit.
Selama beberapa bulan
berikutnya bayi yang sehat akan mengkonsumsi sekitar 700-800 ml ASI setiap hari.Akan tetapi penelitian
yang dilakukan pada beberpa kelompok ibu dan bayi menunjukkan terdapatnya
variasi dimana seseorang bayi dapat mengkonsumsi sampai 1 liter selama 24 jam,
meskipun kedua anak tersebut tumbuh dengan kecepatan yang sama.
Konsumsi ASI selama satu kali menysui
atau jumlahnya selama sehari penuh sangat bervariasi. Ukuran payudara tidak ada
hubungannya dengan volume air susu yang diproduksi, meskipun umumnya payudara
yang berukuran sangat kecil, terutama yang ukurannya tidak berubah selama masa
kehamilan hanya memproduksi sejumlah kecil ASI.
Pada ibu-ibu yang mengalami kekurangan
gizi, jumlah air susunya dalam sehari sekitar 500-700 ml selama 6 bulan
pertama, 400-600 ml dalam 6 bulan kedua, dan 300-500 ml dalam tahun kedua
kehidupan bayi. Penyebabnya mungkin dapat ditelusuri pada masa kehamilan dimana
jumlah pangan yang dikonsumsi ibu tidak memungkinkan untuk menyimpan cadangan
lemak dalam tubuhnya, yang kelak akan digunakan sebagai salah satu komponen ASI
dan sebagai sumber energi selama menyusui. Akan tetapi kadang-kadang terjadi
bahwa peningkatan jumlah produksi konsumsi pangan ibu tidak selalu dapat
meningkatkan produksi air susunya. Produksi ASI dari ibu yang kekurangan gizi
seringkali menurun jumlahnya dan akhirnya berhenti, dengan akibat yang fatal
bagi bayi yang masih sangat muda. Di daerah-daerah dimana ibu-ibu sangat
kekurangan gizi seringkali ditemukan “merasmus” pada bayi-bayi berumur sampai
enam bulan yang hanya diberi ASI.
Komposisi ASI
Kandungan colostrum berbeda dengan air
susu yang mature, karena colostrum mengandung berbeda dengan air susu yang
mature, karena colostrum dan hanya sekitar 1% dalam air susu mature, lebih
banyak mengandung imunoglobin A (Iga), laktoterin dan sel-sel darah putih,
terhadap, yang kesemuanya sangat penting untuk pertahanan tubuh bayi, terhadap
serangan penyakit (Infeksi) lebih sedikit mengandung lemak dan laktosa, lebih
banyak, mengandung vitamin dan lebih banyak mengandung mineral-mineral natrium
(Na) dan seng (Zn).
Dimana susu sapi mengandung sekitar
tiga kali lebih banyak protein daripada ASI. Sebagian besar dari protein
tersebut adalah kasein, dan sisanya berupa protein whey yang larut. Kandungan
kasein yang tinggi akan membentuk gumpalan yang relatif keras dalam lambung
bayi. Bila bayi diberi susu sapi, sedangkan ASI walaupun mengandung lebih
sedikit total protein, namun bagian protein “whey”nya lebih banyak, sehingga
akan membetuk gumpalan yang lunak dan lebih mudah dicerna serta diserapoleh
usus bayi.
Sekitar setengah dari energi yang
terkandung dalam ASI berasal dari lemak, yang lebih mudah dicerna dan diserap
oleh bayi dibandingkan dengan lemak susu sapi, sebab ASI mengandung lebih
banyak enzim pemecah lemak (lipase). Kandungan total lemak sangat bervariasi
dari satu ibu ke ibu lainnya, dari satu fase lakatasi air susu yang pertama
kali keluar hanya mengandung sekitar 1 – 2% lemak dan terlihat encer. Air susu
yang encer ini akan membantu memuaskan rasa haus bayi waktu mulai menyusui. Air
susu berikutnya disebut “Hand milk”, mengandung sedikitnya tiga sampai empat
kali lebih banyak lemak. Ini akan memberikan sebagian besar energi yang
dibutuhkan oleh bayi, sehingga penting diperhatikan agar bayi, banyak
memperoleh air susu ini.
Laktosa (gula susu) merupakan
satu-satunya karbohidrat yang terdapat dalam air susu murni. Jumlahnya dalam
ASI tak terlalu bervariasi dan terdapat lebih banyak dibandingkan dengan susu
sapi..
ASI mengandung lebih sedikit kalsium
daripada susu sapi tetapi lebih mudah diserap, jumlah ini akan mencukupi
kebutuhan untuk bahan-bahan pertama kehidupannya ASI juga mengandung lebih
sedikit natrium, kalium, fosfor dan chlor dibandingkan dengan susu sapi, tetapi
dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan bayi.
Apabila makanan yang dikonsumsi ibu
memadai, semua vitamin yang diperlukan bayi selama empat sampai enam
bulan pertama kehidupannya dapat diperoleh dari ASI. Hanya sedikit terdapat
vitamin D dalam lemak susu, tetapi penyakit polio jarang terjadi pada aanak yang
diberi ASI, bila kulitnya sering terkena sinar matahari. Vitamin D yang
terlarut dalam air telah ditemukan terdapat dalam susu, meskipun fungsi vitamin
ini merupakan tambahan terhadap vitamin D yang terlarut lemak.
Manajemen Laktasi
Manajemen laktasi adalah upaya-upaya
yang dilakukan untuk menunjang keberhasilan menyusui. Dalam pelaksanaannya
terutama dimulai pada masa kehamilan, segera setelah persalinan dan pada masa
menyusui selanjutnya.
Keadaan gizi anak pada waktu lahir
sangat dipengaruhi oleh keadaan gizi semasa hamil. Ibu yang semasa hamilnya
menderita gangguan gizi selain akan melahirkan anak yang gizinya tidak baik,
juga kemungkinan dapat melahirkan anak dengan berbagai kelainan dalam
pertumbuhannya, atau mungkin anak akan lahir mati. Sejak terjadinya pembuahan
terhadap sel telur dalam rahim ibu.
Hanya makanan yang memenuhi syarat gizi
bagi anak dan bagi ibunya yang dapat membantu syarat gizi bagi wanita hamil dan
pengaturan makanan anak yang sesuai merupakan masalah pokok yang perlu dihayati
oleh para ibu. Menyusui adalah cara makan aanak-anak yang tradisional dan
ideal, yang biasanya sanggup memenuhi kebutuhan gizi seseorang bayi untuk masa
hidup empat sampai enam bulan pertama. Bahkan setelah diperkenankan bahan
makanan tambahan yang utama, ASI masih tetap merupakan sumber utama yang bisa
mencukupi gizi.
Dalam tahap usia sejak lahir sampai 4
bulan, ASI merupakan makanan yang paling utama. Pemberian ASI masa ini
memberikan beberpa keuntungan.
Betapapun tingginya dan baiknya mutu
ASI sebagai makanan bayi, manfaatnyabagi pertumbuhan dan perkembangan bayi
sangat ditentukan oleh jumlah ASI yang dapat diberikan oleh ibu. Kebaikan dan
mutu ASI yang dapat dihasilkan oleh ibu tidak sesuai dengan kebutuhan bayi, dan
akibatnya bayi akan menderita gangguan gizi.
ASI sebagai makanan tunggal harus
diberikan sampai bayi berumur 4bulan. Hal ini sesuai dengan kebijaksanaan
PP-ASI yaitu ASI diberikan selama 2 tahun dan baru pada usia 4 bulan bayi mulai
di beri makanan pendamping ASI, paling lambat usia 6 bulan karena ASI dapat
memenuhi kebutuhan bayi pada 4 bulan pertama.
Adapun makanan bayi umur 0-4 bulan
adalah sebagai berikut:
– Susui bayi segera 30 menit setelah
lahir.
Kontak fisik dan hisapan bayi akan
merangsang produksi ASI. Pada periode ini ASI saja sudah dapat memenuhi
kebutuhan gizi bayi, karena ASI adalah makanan terbaik untuk bayi. Menyusui
sangat baik untuk bayi dan ibu. Dengan menysusui akan terjalin hubungan kasih
sayang antara ibu dan anak.
– Berikan Kolostrum
– Berikan ASI dari kedua payudara, kiri
dan kanan secara bergantian, tiap
kali sampai payudara terasa kosong.
Payudara yang dihisap sampai
kosong merangsang produksi ASI yang
cukup.
– Berikan ASI setiap kali
meminta/menangis tanpa jadwal.
– Berikan ASI 0-10 kali setiap hari,
termasuk pada malam hari.
Faktor-faktor yang memperoleh Produksi
ASI
Adapun hal-hal yang mempengaruhi
produksi ASI antara lain adalah:
a. Makanan Ibu
Makanan yang dimakan seorang ibu yang
sedang dalam masa menyusui tidak secara langsung mempengaruhi mutu ataupun
jumlah air susu yang dihasilkan. Dalam tubuh terdapat cadangan berbagai zat
gizi yang dapat digunakan bila sewaktu-waktu diperlukan. Akan tetapi jika
makanan ibu terus menerus tidak mengandung cukup zat gizi yang diperlukan tentu
pada akhirnya kelenjar-kelenjar pembuat air susu dalam buah dada ibu tidak akan
dapat bekerja dengan sempurna, dan akhirnya akan berpengaruh terhadap produksi
ASI.
Unsur gizi dalam 1 liter ASI setara
dengan unsur gizi yang terdapat dalam 2 piring nasi ditambah 1 butir telur.
Jadi diperlukan kalori yang setara dengan jumlah kalori yang diberikan 1 piring
nasi untuk membuat 1 liter ASI. Agar Ibu menghasilkan 1 liter ASI diperlukan
makanan tamabahan disamping untuk keperluan dirinya sendiri, yaitu setara
dengan 3 piring nasi dan 1 butir telur.
b. Ketentraman Jiwa dan Pikiran
Pembuahan air susu ibu sangat
dipengaruhi oleh faktor kejiwaan. Ibu yang selalu dalam keadaan gelisah, kurang
percaya diri, rasa tertekan dan berbagai bentuk ketegangan emosional, mungkin
akan gagal dalam menyusui bayinya.
Pada ibu ada 2 macam, reflek yang
menentukan keberhasilan dalam
menyusui bayinya, reflek tersebut
adalah:
1. Reflek Prolaktin
Reflek ini secara hormonal untuk
memproduksi ASI. Waktu bayi menghisap payudara ibu, terjadi rangsangan
neorohormonal pada putting susu dan aerola ibu. Rangsangan ini diteruskan ke
hypophyse melalui nervus vagus, terus kelobus anterior. Dari lobus ini akan
mengeluarkan hormon prolaktin, masuk ke peredaran darah dan sampai pada
kelenjar –kelenjar pembuat ASI. Kelenjar ini akan terangsang untuk menghasilkan
ASI.
2. Let-down Refleks (Refleks Milk
Ejection)
Refleks ini membuat memancarkan ASI
keluar. Bila bayi didekatkan pada payudara ibu, maka bayi akan memutar
kepalanya kearah payudara ibu. Refleks memutarnya kepala bayi ke payudara ibu
disebut :”rooting reflex (reflex menoleh). Bayi secara otomatis menghisap
putting susu ibu dengan bantuan lidahnya. Let-down reflex mudah sekali
terganggu, misalnya pada ibu yang mengalami goncangan emosi, tekanan jiwa dan
gangguan pikiran. Gangguan terhadap let down reflex mengakibatkan ASI tidak
keluar. Bayi tidak cukup mendapat ASI dan akan menangis.
Tangisan bayi ini justru membuat ibu
lebih gelisah dan semakin mengganggu let down reflex.
c. Pengaruh persalinan dan klinik
bersalin
Banyak ahli mengemukakan adanya
pengaruh yang kurang baik terhadap kebiasaan memberikan ASI pada ibu-ibu yang
melahirkan di rumah sakit atau klinik bersalin lebih menitik beratkan upaya
agar persalinan dapat berlangsung dengan baik, ibu dan anak berada dalam
keadaan selamat dan sehat. Masalah pemebrian ASI kurang mendapat perhatian.
Sering makanan pertama yang diberikan justru susu buatan atau susu sapi. Hal
ini memberikan kesan yang tidak mendidik pada ibu, dan ibu selalu beranggapan
bahwa susu sapi lebih dari ASI. Pengaruh itu akan semakin buruk apabila
disekeliling kamar bersalin dipasang gambar-gambar atau poster yang memuji
penggunaan susu buatan.
d. Penggunaan alat kontrasepsi yang
mengandung estrogen dan
progesteron.
Bagi ibu yang dalam masa menyusui tidak
dianjurkan menggunakan kontrasepsi pil yang mengandung hormon estrogen, karena
hal ini dapat mengurangi jumlah produksi ASI bahkan dapat menghentikan produksi
ASI secara keseluruhan oleh karena itu alat kontrasepsi yang paling tepat
digunakan adalah alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) yaitu IUD atau spiral.
Karena AKDR dapat merangsang uterus ibu sehingga secara tidak langsung dapat
meningkatkan kadar hormon oxitoksin, yaitu hormon yang dapat merangsang
produksi ASI.
e. Perawatan Payudara
Perawatan fisik payudara menjelang masa
laktasi perlu dilakukan, yaitu dengan mengurut payudara selama 6 minggu
terakhir masa kehamilan. Pengurutan tersebut diharapkan apablia terdapat
penyumbatan pada duktus laktiferus dapat dihindarkan sehingga pada waktunya ASI
akan keluar dengan lancar.
BAB
III
PEMBAHASAN
ASI merupakan malanan alamiah yang
pertama dan utama bagi bayi baru lahir. ASI dapat memenuhi kebutuhan bayi akan
energi dan gizi selama 4-6 bulan pertama kehidupannya, sehingga dapat mencapai
tumbuh kembang yang optimal. Selain sebagai sumber energi dan zat gizi,
pemberian ASI juga merupakan media untuk menjalin hubungan psikologis antara
ibu dan bayinya.
Hubungan ini akan menghantarkan kasih
sayang dan perlindungan ibu kepada bayinya serta memikat kemesraan bayi
terhadap ibunya, sehingga terjalin hubungan yang harmonis dan erat. Namun
sering ibu-ibu tidak berhasil menyusui bayinya atau menghentikan menyusui lebih
dini. Untuk itu dalam Bab pembahasan ini akan dibahas “Mengapa ASI Ekslusif
tidak diberikan, dan kemungkinan faktor-faktor yang mempengaruhi tidak
diberikannya ASI Ekslusif.”
Penelitian dan pengamatan yang
dilakukan diberbagai daerah menunjukkan dengan jelas adanya kecenderungan
meningkatkannya jumlah ibu yang tidak menyusui bayi ini dimulai di kota
terutama pada kelomopk ibu dan keluarga yang berpenghasilan cukup, yang
kemudian menjalar ke daerah pinggiran kota dan menyebar sampai ke desa-desa.
Banyak hal yang menyebabkan ASI Ekslusif tidak diberikan khususnya bagi ibu-ibu
di Indonesia, hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh. Antara lain:
a. Adanya perubahan struktur masyarakat
dan keluarga.
Hubungan kerabat yang luas di daerah
pedesaan menjadi renggang setelah keluarga pindah ke kota. Pengaruh orang tua
seperti nenek, kakek, mertua dan orang terpandang dilingkungan keluarga secara berangsur
menjadi berkurang, karena mereka itu umumnya tetap tinggal di desa sehingga
pengalaman mereka dalam merawat makanan bayi tidak dapat diwariskan.
b. Kemudahan-kemudahan yang didapat
sebagai hasil kemajuan
Teknologi pembuatan makanan bayi
seperti pembuatan tepung makanan bayi, susu buatan bayi, mendorong ibu untuk
mengganti ASI dengan makanan olahan lain.
c. Iklan yang menyesatkan dari produksi
makanan bayi menyebabkan ibu beranggapan bahwa makanan-makanan itu lebih baik
dari ASI
d. Para ibu sering keluar rumah baik
karena bekerja maupun karena tugas-tugas sosial, maka susu sapi adalah
satu-satunya jalan keluar dalam pemberian makanan bagi bayi yang ditinggalkan
dirumah.
e. Adanya anggapan bahwa memberikan
susu botol kepada anak sebagai salah satu simbol bagi kehidupan tingkat sosial
yan lebih tinggi, terdidik dan mengikuti perkembangan zaman.
f. Ibu takut bentuk payudara rusak
apabila menyusui dan kecantikannya akan hilang.
g. Pengaruh melahirkan dirumah sakit
atau klinik bersalin. Belum semua petugas paramedis diberi pesan dan diberi
cukup informasi agar menganjurkan setiap ibu untuk menyusui bayi mereka, serta
praktek yang keliru dengan memberikan susu botol kepada bayi yang baru lahir.
Sering juga ibu tidak menyusui bayinya
karena terpaksa, baik karena faktor intern dari ibu seperti terjadinya
bendungan ASI yang mengakibatkan ibu merasa sakit sewaktu bayinya menyusu,
luka-luka pada putting susu yang sering menyebabkan rasa nyeri, kelainan pada
putting susu dan adanya penyakit tertentu seperti tuberkolose, malaria yang
merupakan alasan untuk tidak menganjurkan ibu menyusui bayinya, demikian juga
ibu yang gizinya tidak baik akan menghasilkan ASI dalam jumlah yang relatif
lebih sedikit dibandingkan ibu yang sehat dan gizinya baik.
Disamping itu juga karena faktor dari
pihak bayi seperti bayi lahir sebelum waktunya (prematur) atau bayi lahir
dengan berat badan yang sangat rendah yang mungkin masih telalu lemah abaila
mengisap ASI dari payudara ibunya, serta bayi yang dalam keadaan sakit.
Memburuknya gizi anak dapat juga
terjadi akibat ketidaktahuan ibu mengenai cara – cara pemberian ASI kepada
anaknya. Berbagai aspek kehidupan kota telah membawa pengaruh terhadap banyak
para ibu untuk tidak menyusui bayinya, padahal makanan penganti yang bergizi
tinggi jauh dari jangkauan mereka. Kurangnya pengertian dan pengertahuuan ibu
tentang manfaat ASI dan menyusui menyebabkan ibu – ibu mudah terpengaruh dan
beralih kepada susu botol (susu formula).Kesehatan/status gizi bayi/anak serta
kelangsungan hidupnya akan lebih baik pada ibu- ibu yang berpendidikan rendah.
Hal ini karena seorang ibu yang berpendidikan tinggi akan memiliki pengetahuan
yang luas serta kemampuan untuk menerima informasi lebih tinggi.
Faktor lain yang berpengaruh terhadap
pemberian ASI adalah sikap ibu terhadap lingkungan sosialnya dan kebudayaan
dimana dia dididik. Apabila pemikiran tentang menyusui dianggap tidak sopan dan
memerlukan , maka “let down reflex” (reflex keluar) akan terhambat. Sama halnya
suatu kebudayaan tidak mencela penyusunan, maka pengisapan akan tidak terbatas
dan “du demand” (permintaan) akan menolong pengeluaran ASI.
Selain itu kemampuan ibu yang seusianya
lebih tua juga amat rendah produksi ASInya, sehingga bayi cendrung mengalami
malnutrisi. Alasan lain ibu – ibu tidak menyusui bayinya adalah karena ibu
tersebut secara tidak sadar berpendapat bahwa menyusui hanya ibu merupakan
beban bagi kebebasan pribadinya atau hanya memperburuk potongan dan ukuran
tubuhnya.
Kendala lain yang dihadapi dalam upaya
peningkatan penggunaan ASI adalah sikap sementara petugas kesehatan dari
berbagai tingkat yang tidak bergairah mengikuti perkembangan ilmu kedokteran
dan kesehatan. Konsep baru tentang pemberian ASI dan mengenai hal – hal yang
berhubungan dengan ibu hamil, ibu bersaliin, ibu menyusui dan bayi baaru lahir.
Disamping itu juga sikap sementara penaggung jawab ruang bersaliiin dan
perawatan dirumah sakit,rumah bersalinn yang berlangsung memberikan susu botol
pada bayi baru lahir ataupun tidak mau mengusahakan agar iibu mampu memberikan
ASI kepada bayinya, serta belum diterapkannya pelayanan rawat disebagian besar
rumah
sakit /klinik bersalin.
Semua faktor– faktor terebut diatas
yang dianggap sebagai penyebab semakin melorotnya kegiatan meminumkan air susu
ibu ke kalangan para ibu – ibu saat ini.
Oleh sebab itu upaya yang dapat
dilakukan antara lain :
– Motivasi untuk menyusui.
Di daerah pedesaan menyusui anak
terlihat sebagai suatu proses yang normal, dan tidak dilakukan
sembunyi-sembunyi. Ibu-ibu tidak malu menyusui bayinya. Kebiasaan itu adpat
diciptakan suatu kondisi dan gairah bagi para gadis yang melihatnya, sehingga
ada kemauan naluriah melakukan hal yang sama. Bila tumbuh menjadi besar dan
punya anak meeka ingin melakukan hal yang serupa. Sebaliknya, kebiasaan ibu-ibu
di kota yang malu-nalu serta sembunyi-sembunyi menyusui bayinya, tentu akan
banyak mempengaruhi tabiat gadis-gadis disekitarnya untuk berbuat sama, dan
menyusui anak merupakan sesuatu hal yang harus dihindarkan.
Ibu-ibu harus dibangkitkan kemauan dan
kesediannya untuk menyusui anaknya, terutama sebelum melahirkan. Dan bila
menyusui, hendaknya ditingkatkan pada masyarakat, pengertian tersebut harus
ditanamkan pada anak-anak gadis sejak masih usia muda, bahwa menyusui anak
merupakan bagian dari tugas biologis seorang ibu.
Didaerah perkotaan, sasaran yang harus
diberi pendidikan adalah para gadis remaja. Didaerah pedesaan, pendidikan harus
diarahkan untuk tujuan mencegah marasmus. Perkembangan teknologi yang telah
dapat menciptakan “humanized milk” menyebabkan nilai ASI dan kebiasaan menyusui
yang pada hakekatnya memberikan fasilitas kemudahan pengadaan susu, murah serta
praktis semakin kurang diminati dan dihindari. Kemajuan dibidang kesehatan
lingkungan dan industri makanan sapihan membuat segalanya menjadi sangat
praktis sehingga para ibu lebih cenderung menggunakan susu botol. Untuk
mengatasi masalah tersebut, ibu-ibu yang mampu harus dihimbau dan diberi
motivasi agar kembali pada praktek menyusui anak sendiri. Karena hal itu
mendatangkan keuntungan bagi hubungan ibu dan anak dan terutama karena hal itu
memenuhi ciri dan kodrat manusia.
KETERAMPILAN
MENYUSUI
Banyak permasalahan dalam menyusui
seperti (nyeri pada puting susu, susu yang jumlahnya sedikit, atau ibu tidak
nyaman dalam menyusui) bisa dipecahkan dengan meningkatkan teknik dasar dalam
menyusui, khususnya dalam memposisikan ibu dan bayi dengan benar.
Posisi Ibu :
•
Duduklah dengan nyaman dan carilah posisi yang paling nyaman ketika duduk
diatas kursi, atau kursi goyang, kursi berlengan atau bahkan duduk diatas kasur
dengan bersandar pada dinding atau sandaran kasur.
•
Letakkan bantal dibelakang punggung, dan dibawah lengan yang akan memberikan
tumpuan ketika ibu menggendong bayi.
•
Gunakan tumpuan kaki atau pijakan bila ibu duduk, khususnya bila menggunakan
kursi yang cukup tinggi.
•
Bisa juga ibu bersandar pada sandaran kasur dengan posisi menghadap bayi dengan
menggunakan bantal sebagai penyangga kepala, leher, punggung dan kaki bagian
atas.
Posisi bayi :
•
Disarankan untuk memulai persiapan pemberian ASI dengan mengenakan pakaian yang
sederhana pada bayi atau bahkan tidak mengenakan pakaian, untuk meningkatkan
kontak dengan ibu.
•
Baringkan bayi dalam dekapan ibu, dengan posisi menghadap payudara. Posisi
leher pada lipatan lengan, badan terbaring disepanjang lengan dan pantat
dipegang oleh tangan.
•
Setelah itu putarlah tubuh bayi sedemikian rupa sehingga posisi bayi berhadapan
dengan badan ibu.
•
Posisi tubuh bayi harus dalam kedaan tegak lurus menghadap tubuh ibu, jangan
memutar leher bayi untuk mencapai putting susu ibu.
•
Jika posisi bayi kurang tinggi, gunakan bantal untuk menyangga lengan.
•
Posisikan lengan bayi dengan baik, lengan bawah diposisikan di bawah payudara
dan lengan yang atas bila mengganggu bisa ditahan dengan menggunakan ibu jari
lengan yang menggendong.
Posisi payudara :
•
Hal yang pertama perlu dilakukan dalam persiapan payudara menjelang menyusui.
Secara manual pijatlah payudara untuk mendapatkan beberapa tetes ASI pada
puting ibu, hal ini akan melembabkan payudara ibu.
•
Tahanlah payudara, beban payudara ditahan dengan telapak tangan dan jari-jemari
di bawahnya dan ibu jari di atasnya.
•
Jauhkan jari dari daerah areola, sehingga menjauhi daerah tempat bayi menghisap
susu, hal ini bertujuan untuk menghindari kontaminasi.
TANDA
CUKUP ASI
Banyak ibu yang kurang memperhatikan
apakah bayinya sudah cukup mendapatkan ASI, atau bahkan banyak juga ibu yang
bingung dengan berapa banyak atau berapa sering pemberian ASI yang baik itu.
Oleh karena itu, berbagai tanda dibawah
ini dapat dijadikan pedoman untuk mengevaluasi kecukupan pemberian ASI, yaitu :
•
Bayi menunjukan keinginan dan gairah yang kuat untuk bangun secara teratur
untuk menyusui.
•
Irama hisapan yang ritmis dan teratur, bagian depan telinga bayi akan terlihat
sedikit bergerak dan ibu bisa mendengar bayinya menghisap dan menelan ASI yang
diberikan.
•
Berikan ASI selama rata-rata 15-20 menit pada masng-masing payudara setiap
menyusui.
•
Berikan ASI setidaknya setiap 1-3 jam selama dua bulan pertama. Disarankan juga
untuk membangunkan bayi setiap 2-3 jam untuk memberikan ASI selama beberapa
minggu awal. Setelah lebih dari dua bulan bayi akan mampu menghabiskan ASI
lebih cepat, maka pemberian ASI dilakukan lebih jarang hingga setiap 3-5 jam
dan durasi menyusui menjadi lebih singkat.
•
Memiliki tonus otot yang baik, kulit yang sehat dan warna kulit yang sehat pula
TIPS
SUKSES ASI EKSKLUSIF
Ini tips dari aku yang sukses ASI
eksklusif sampai 6 bulan walaupun ASI-ku tidak termasuk yang berlimpah dan
sukses KB alamiah sampai si kecil 7 bulan.
1. Susui bayi sesering mungkin.
Payudara kanan dan kiri. Jangan dijadwalkan. Produksi ASI mengikuti hukum
permintaan, semakin sering dihisap, maka semakin banyak berproduksi.
2. Pompa payudara sehabis menyusui.
Payudara yang kosong akan semakin mempercepat produksi ASI.
3. Jangan terlalu cepat memindahkan
posisi menyusui dari payudara kiri ke kanan, dan sebaliknya. ASI yang keluar
setelah 15 menit pertama justru banyak mengandung lemak yang
dapat mengenyangkan bayi. Jangan lakukan posisi menyusui tiduran
sampe ketiduran kalau ibus punya kebiasaan tidur “pingsan”. Bisa2
bayinya ketindihan dan gak bisa bernafas.
4. Makan makanan yang bergizi dan minum
cairan yang cukup banyak. Bisa air putih, jus buah, susu rendah lemak, kuah
makanan. Makanannya usahakan banyak sayur hijau dan makanan laut. Daun
katuk segar lebih cepat menghasilkan daripada suplemen seperti Pro ASI
atawa Lancar ASI. Jangan pikirkan diet dulu. Melangsingkan tubuh
bisa dilakukan kapan saja sementara menyusui waktunya cuma
sebentar sementara manfaat baiknya untuk bayi adalah untuk
kecerdasan dan daya tahan tubuhnya.
5. Minum madu juga sangat bermanfaat
6. Ibu harus cukup istirahat dan jangan
stres! Stres bikin ASI mendadak kering.
Memberikan ASI eksklusif terutama
sangat dianjurkan untuk bayi2 yang dilahirkan dengan cara caesar. Bayi “caesar”
mengalami intensitas kesakitan yang sangat tinggi dibandingkan dengan bayi
lahir normal yang sudah mengalami exercise dalam proses kelahiran
sebelum khirnya muncul ke dunia dan beradaptasi dengan dunia luar.
Dengan memberikan ASI, maka dapat membantu mencegah infeksi dan
mengurangi rasa akit yang diderita bayi.
BAB
IV
KESIMPULAN
DAN SARAN
A. KESIMPULAN
1. Air Susu Ibu merupakan makanan yang
terbaik bagi bayi yang harus diberikan pada bayi sampai bayi berusia 4 bulan
tanpa makanan pendamping.
2. Adanya kecenderungan semakin tinggi
tingkat pendidikan semakin besar persentase ASI secara Eksklusif.
3. Masih rendahnya tingkat pengetahuan
ibu-ibu tentang pemberian ASI.
B. SARAN
1. Perlu peningkatan penyuluhan
kesehatan secara umum khususnya tentang ASI dan menyusui kepada masyarakat,
khususnya kepada ibu hamil tentang gizi dan perawatan payudara selama masa
kehamilan, sehingga produksi ASI cukup.
2. Perlu ditingkatkan peranan tenaga
kesehatan baik di rumah sakit, klinik bersalin, Posyandu di dalam memberikan
penyuluhan atau petunjuk kepada ibu hamil, ibu baru melahirkan dan ibu menyusui
tentang ASI dan menyusui.
3.perlu kesadaran ibu dan keluarga
tentang pentingnya pemberian ASI ekslusif tersebut kepada bayi terhadap tumbuh
kembangnya.
Sumber : koleksi Mediague.wordpress.com
dikumpulkan oleh RW.Hapsari
dikumpulkan oleh RW.Hapsari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar