Minggu, 29 Januari 2017

Ambulasi Kebidanan

Ambuasi Dalam Kebidanan
PENGERTIAN AMBULASI
            Ambulasi adalah latihan yang paling berat dimana pasien yang dirawat dirumah sakit dapat berpartisipasi kecuali dikontraindikasikan oleh kondisi pasien.
            Hal ini harusnya menjadi bagian dalam perencanaan latihan untuk semua pasien. Ambulasi mendukung kekuatan, daya tahan dan fleksibelitas. Keuntungan dari latihan berangsur-angsur dapat di tingkatkan seiring dengan pengkajian data pasien menunjukkan tanda peningkatan toleransi aktivitas. Menurut Kozier (1995 dalam Asmandi, 2008) ambulasi adalah aktivitas berjalan. Ambulasi dini merupakan tahapan kegiatan yang dilakukan segera pada pasien paska operasi dimulai dari duduk sampai pasien turun dari tempat tidur dan mulai berjalan dengan bantuan alat sesuai dengan kondisi pasien.
TUJUAN AMBULASI
·        Untuk memenuhi kebutuan aktivitas
·        Memenuhi kebutuhan ambulasi
·        Mempertahankan kenyamanan
·        Mempertahankan toleransi terhadap aktivitas
·        Mempertahankan control diri pasien
·        Memindahkan pasien untuk pemeriksaan


TINDAKAN - TINDAKAN AMBULASI
a.      Duduk diatas tempat tidur
1.     Jelaskan pada pasien prosedur yang akan dilakukan
2.     Anjurkan pasien untuk meletakkan tangan disamping badannya
3.     Berdirilah di samping tempat tidur, kemudian meletakkan tangan pada bahu pasien
4.     Bantu pasien untuk duduk dan diberi penopang atau bantal

b.      Turun dan berdiri dari temapt tidur
1.     Jelaskan pada pasien prosedur yang akan dilakukan
2.     Fleksikan lutut dan pinggang anda
3.     Letakkan kedua tangan pasien di bahu anda dan letakkan kedua tangan anda di samping kanan kiri pinggang pasien
4.     Ketika pasien melakukan ke lantai, tahan lutut anda pada lutut pasien
5.     Bantu berdiri tegak dan jalan sampai ke kursi
6.     Bantu pasien duduk di kursi dengan posisi yang nyaman

c.      Bantu berjalan
1.     Jelaskan pada pasien prosedur yang akan dilakukan
2.     Letakkan tangan pasien di samping badan atau memegang telapak tangan anda
3.     Berdiri di samping pasien serta pegang telapak dan lengan tangan pada bahu pasien
4.     Bantu pasien untuk berjalan perlahan-lahan


d.     Memindahkan pasien dari tempat tidu ke branchard
1.   Jelaskan pada pasien prosedur yang akan dilakukan
2.   Atur branchard dengan posisi terkunci
3.   Bantu pasien dengan dua sampai tiga orang dengan berdiri menghadap pasien
4.   Silangkan tangan pasien di depan dada
5.   Tekuk lutut anda kemudian masukkan tangan ke bawah tubuh pasien
6.   Orang pertama meletakkan tangan di bawah leher, orang kedua meletakkan tangan di bawah pinggang dan panggul dan orang ketiga meletakkan tangan di bagian kaki
7.   Angkat bersama-sama dan pindahkan ke branchard
8.   Atur posisi pasien di branchard yang nyaman

2. Alat-alat yang digunakan dalam pelaksanaan ambulasi

·      Kruk adalah alat yang terbuat dari logam atau kayu dan digunakan permanen untuk meningkatkan mobilisasi serta untuk menopang tubuh dalam keseimbangan pasien. Misalnya: Conventional, Adjustable dan lofstrand.

·      Canes (tongkat) yaitu alat yang terbuat dari kayu atau logam setinggi pinggang yang digunakan pada pasien dengan lengan yang mampu dan sehat. Meliputi tongkat berkaki panjang lurus (single stight-legged) dan tongkat berkaki segi empat (quad cane).

·      Walkers yaitu alat yang terbuat dari logam mempunyai empat penyangga yang kokoh digunakan pada pasien yang mengalami kelemahan umum, lengan yang kuat dan mampu menopang tubuh.

BAB III
PENUTUP

3 KESIMPULAN
A.  Ambulasi dini merupakan tahapan kegiatan yang dilakukan segera pada pasien paska operasi dimulai dari duduk sampai pasien turun dari tempat tidur dan mulai berjalan.

3.  Tujuan ambulasi adalah untuk memenuhi kebutuhan aktivitas guna mempertahankan kesehatan pasien.

2.  Latihan ambulasi seperti duduk di atas tempat tidur, turun dan berdiri dari tempat tidur, membantu berjalan, dan memindahkan pasien dari tempat tidur ke branchard.
  
DAFTAR PUSTAKA

Uliyah, Musrifatul & Hidayat A. A. A. (2008). Keterampilan Dasar Praktik untuk Kebidanan (Edisi 2). Jakarta: Salemba Medika

Uliyah, Musrifatul & Hidayat A. A. A. (2004). Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta: Buku Kedokteran EGC

Sabtu, 28 Januari 2017

Perawatan Luka Perineum

DAFTAR ISI 
KATA PENGANTAR .......................................................................................... i
DAFTAR ISI ......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang .................................................................................. ....... 1
1.2  Rumusan Masalah ..................................................................................... 2
1.3  Tujuan Penulisan ....................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1  Pengertian Perawatan Perineum ................................................................. 3
2.2  Tujuan Perawatan Perineum ....................................................................... 4
2.3  Bentuk luka perineum ................................................................................ 4
2.4  Waktu perawatan luka perineum ................................................................ 5
2.5  Fakor-faktor yang mempengaruhi perawatan luka perineum ..................... 5
2.6  Teknik Melakukan Perawatan Perineum .................................................... 6
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ......................................................................................         8
3.2  Saran....................................................................................................... 8 

BAB I
PENDAHULUAN

11.  Latar Belakang
Persalinan seringkali menimbulkan perlukaan jalan lahir, luka-luka biasanya ringan tetapi kadang-kadang terjadi juga luka yang luas dan berbahaya. Setelah persalinan harus dilakukan pemeriksaan vulva dan perineum. Robekan perineum terjadi pada hampir semua persalinan pertama dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya. (Wiknjosastro, 2005)
Ibu yang bersalin secara normal, beberapa ada yang tidak mengalami robekan karena jalan lahirnya cukup elastis ketika dilalui bayi saat proses persalinan. Namun ada ibu yang memerlukan bantuan dokter maupun bidan untuk memperlebar jalan lahir dengan dilakukan pengguntingan jaringan di daerah perineum yakni jaringan otot antara anus dan vagina. Pengguntingan jaringan otot perineum ini disebut tindakan episiotomi.
Luka pada perenium akibat episiotomi, ruptura atau laserasi merupakan daerah yang tidak mudah untuk dijaga agar tetap bersih dan kering. Pengamatan dan perawatan khusus diperlukan untuk menjamin agar daerah tersebut sembuh dengan cepat dan mudah. Pencucian daerah perineum memberikan kesempatan untuk melakukan inspeksi secara seksama pada daerah tersebut dan mengurangi rasa sakitnya(Helen Farrer).
Perawatan adalah proses pemenuhan kebutuhan dasar manusia (biologis, psikologis, sosial dan spiritual) dalam rentang sakit sampai dengan sehat (Aziz, 2004). Perineum adalah daerah antara kedua belah paha yang dibatasi oleh vulva dan anus (Danis, 2000). Post Partum adalah selang waktu antara kelahiran placenta sampai dengan kembalinya organ genetik seperti pada waktu sebelum hamil (Mochtar, 2002). Perawatan perineum adalah pemenuhan kebutuhan untuk menyehatkan daerah antara paha yang dibatasi vulva dan anus pada ibu yang dalam masa antara kelahiran placenta sampai dengan kembalinya organ genetik seperti pada waktu sebelum hamil.
Tujuan perawatan perineum menurut Hamilton (2002), adalah mencegah terjadinya infeksi sehubungan dengan penyembuhan jaringan. Perawatan luka jalan lahir dilakukan sesegera mungkin setelah 6 jam dari persalinan normal. Ibu akan dilatih dan dianjurkan untuk mulai bergerak duduk dan latihan berjalan. Tentu saja bila keadaan ibu cukup stabil dan tidak mengalami komplikasi misalnya tekanan darah tinggi atau pendarahan.

1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan masalah yaitu:
a.       Apa yang dimaksud dengan perawatan perineum?
b.      Apa tujuan dilakukannya perawatan perineum?
c.       Apa saja bentuk luka perineum?
d.      Kapan saja dilakukan perawatan perineum?
e.       Apa saja factor-faktor yang mempengruhi dalam melakukan perawatan perineum?
f.       Bagaimana teknik melakukan perawatan perineum?

1.3  Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, adapun tujuan dalam penulisan makalah ini adalah untuk:
a.       Untuk mengetahui pengertian dan tujuan dari perawatan perineum
b.      Untuk mengetahui dan memahami bentuk dari luka perineum
c.       Untuk mengetahui waktu perawatan perineum
d.      Untuk mengetahui factor-faktor dan teknik dalam melakukan perawatan perineum.



BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Pengertian Perawatan Perineum

Perawatan adalah proses pemenuhan kebutuhan dasar manusia (biologis, psikologis, sosial dan spiritual) dalam rentang sakit sampai dengan sehat (Aziz, 2004). Perineum adalah daerah antara kedua belah paha yang dibatasi oleh vulva dan anus (Danis, 2000). Perawatan perineum adalah pemenuhan kebutuhan untuk menyehatkan daerah antara paha yang dibatasi vulva dan anus pada ibu yang dalam masa antara kelahiran placenta sampai dengan kembalinya organ genetik seperti pada waktu sebelum hamil.
Merawat luka merupakan suatu usaha untuk mencegah trauma (injury) pada kulit, membran mukosa atau jaringan lain yang disebabkan oleh adanya trauma, fraktur, luka operasi yang dapat merusak permukaan kulit (Ismail, 2012).
Robekan perineum terjadi pada hampir semua persalinan pertama dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya. Robekan ini dapat dihindari atau dikurangi dengan menjaga jangan sampai dasar panggul dilalui oleh kepala janin dengan cepat. Robekan perineum umumnya terjadi digaris tengah dan bisa menjadi luas apabila kepala janin lahir terlalu cepat, sudut arcus pubis lebih kecil daripada biasanya sehingga kepala janin terpaksa lahir lebih ke belakang dan biasanya, kepala janin melewati pintu bawah panggul dengan ukuran yang lebih besar daripada sirkum frensia suboksipito-bregmatika.
Robekan pada luka perineum ini sebenarnya ada beberapa tingkatan, yakni jahitan pada robekan jahitan  jalan lahir tingkat 1, yakni jahitan yang hanya menyatukan kulit luar yang robek, lalu yang berikut jahitan pada robekan jalan lahir tingkat II, yang menyatukan kulit dan jaringan otot  ( ini yang paling sering terjadi ), dan terakhir adalah jahitan yang menyatukan robekan jalan lahir tingkat III yang  robek sampai dubur.

2.2  Tujuan Perawatan Perineum
Tujuan perawatan perineum menurut Hamilton (2002), adalah mencegah terjadinya infeksi sehubungan dengan penyembuhan jaringan, untuk mencegah terjadinya infeksi di daerah vulva, perineum, maupun di dalam uterus, untuk penyembuhan luka perinium (jahitan perineum), untuk kebersihan perineum dan vulva, untuk mencegah infeksi seperti diuraikan diatas bahwa saat persalinan vulva merupakan pintu gerbang masuknya kuman-kuman. Bila daerah vulva dan perineum tidak bersih, mudah terjadi infeksi pada jahitan perineum saluran vagina dan uterus. Perawatan luka jalan lahir dilakukan sesegera mungkin setelah 6 jam dari persalinan normal. Ibu akan dilatih dan dianjurkan untuk mulai bergerak duduk dan latihan berjalan. Tentu saja bila keadaan ibu cukup stabil dan tidak mengalami komplikasi misalnya tekanan darah tinggi atau pendarahan.

2.3  Bentuk Luka Perinium
a.       Rupture
Rupture adalah luka pada perineum yang diakibatkan oleh rusaknya jaringan secara alamiah karena proses desakan kepala janin atau bahu pada saat proses persalinan. Bentuk rupture biasanya tidak teratur sehingga jaringan yang robek sulit dilakukan penjahitan.
b.      Episiotomi
Episiotomi adalah sebuah irisan bedah pada perineum untuk memperbesar muara vagina yang dilakukan tepat sebelum keluarnya kepala bayi.
c.       Komplikasi Episiotomi
Kurang dari 1% episiotomi atau laserasi mengalami infeksi. Laserasi derajat empat memiliki risiko infeksi serius yang paling tinggi. Tepi-tepi luka yang berhadapan menjadi kemerahan, seperti daging dan membengkak. Benang sering merobek jaringan edematosa sehingga tepi-tepi luka nekrotik menganga yang menyebabkan keluarnya cairan serosa, serosanguinosa, atau jelas purulen. Lepasnya jahitan episiotomi paling sering berkaitan dengan infeksi (Leveno, 2009).

2.4  Waktu Perawatan Luka Perineum
a.       Saat Mandi
Pada saat mandi, ibu post partum pasti melepas pembalut. Setelah terbuka maka akan kemungkinan terjadi kontaminasi bakteri pada cairan yang tertampung pada pembalut, untuk itu maka perlu dilakukan penggantian pembalut.
b.      Setelah buang air kecil
Pada saat buang air kecil kemungkin besar terjadi kontaminasi air seni pada rektum akibatnya dapat memicu pertumbuhan bakteri pada perinium untuk itu diperlukan pembersihan perineum.
c.       Setelah buang air besar
Pada saat buang air besar, dilakukan pembersihan sisa-sisa kotoran disekitar anus, untuk mencegah terjadinya kontaminasi bakteri dari anus ke perineum.

2.5  Fakor-Faktor Yang Mempengaruhi Perawatan Luka Perineum
a.       Gizi
Faktor gizi terutama protein akan sangat mempengaruhi terhadap proses penyembuhan luka pada perinium karena jaringan sangat membutuhkan protein.
b.      Obat-obatan
·         Steroid : Dapat menyamarkan adanya infeksi dengan mengganggu respon inflamasi normal.
·         Antikoagulan : Dapat meyebabkan Hemoragi.
·         Antibiotik Spektrum luas/spesifik : Efektif bila diberikan segera sebelum pembedahan untuk patologi spesifik atau kotaminasi bakteri. Jika diberikan setelah luka tertutup, tidak efektif karena koagulasi intrvaskular.

2.6  Teknik Melakukan Perawatan Perineum
Berikut ini merupakana cara dalam mempersiapkan alat dan melakukan perawatan dalam perineum yaitu:
Alat yang harus disiapkan:
  1. Siapkan air hangat
  2. Sabun dan waslap
  3. Handuk kering dan bersih
  4. Pembalut ganti yang secukupnya
  5. Celana dalam yang bersih
Cara melakukan perawatan:

a.       Lepas semua pembalut dan cebok dari arah depan ke belakang.
b.      Basahi waslap dan buat busa sabun lalu gosokkan perlahan waslap yang sudah ada busa sabun tersebut ke seluruh lokasi luka jahitan. Jangan takut dengan rasa nyeri, bila tidak dibersihkan dengan benar maka darah kotor akan menempel pada luka jahitan dan menjadi tempat kuman berkembang biak.
c.       Bilas dengan air hangat dan ulangi sekali lagi sampai yakin bahwa luka benar–benar bersih. Bila perlu lihat dengan cermin kecil.
d.      Setelah luka bersih boleh berendam dalam air hangat dengan menggunakan tempat rendam khusus. Atau bila tidak bisa melakukan perendaman dengan air hangat cukup disiram dengan air hangat.
e.       Mengenakan pembalut baru yang bersih dan nyaman dan celana dalam yang bersih dari bahan katun. Jangan mengenakan celana dalam yang bisa menimbulkan reaksi alergi.
f.       Segera mengganti pembalut jika terasa darah penuh, semakin bersih luka jahitan maka akan semakin cepat sembuh dan kering. Lakukan perawatan yang benar setiap kali ibu buang air kecil atau saat mandi dan bila mengganti pembalut.
g.      Konsumsi makanan bergizi dan berprotein tinggi agar luka jahitan cepat sembuh. Makanan berprotein ini bisa diperoleh dari telur, ikan, ayam dan daging, tahu, tempe. Jangan pantang makanan, ibu boleh makan semua makanan kecuali  bila ada riwayat alergi.
h.      Luka tidak perlu dikompres obat antiseptik cair tanpa seijin dokter atau bidan.

BAB III
PENUTUP

31  Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa perawatan perineum adalah pemenuhan kebutuhan untuk menyehatkan daerah antara paha yang dibatasi vulva dan anus pada ibu yang dalam masa antara kelahiran placenta sampai dengan kembalinya organ genetik seperti pada waktu sebelum hamil.
Tujuan perawatan perineum menurut Hamilton (2002), adalah mencegah terjadinya infeksi sehubungan dengan penyembuhan jaringan, untuk mencegah terjadinya infeksi di daerah vulva, perineum, maupun di dalam uterus, untuk penyembuhan luka perinium (jahitan perineum), untuk kebersihan perineum dan vulva, untuk mencegah infeksi seperti diuraikan diatas bahwa saat persalinan vulva merupakan pintu gerbang masuknya kuman-kuman.
32  Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas kami dapat memberikan saran bahwa perawatan perineum sangan penting untuk dilakukan. Perawatan luka jalan lahir ini sebaiknya dilakukan sesegera mungkin setelah 6 jam dari persalinan normal. Dalam hal ini, ibu akan dilatih dan dianjurkan untuk mulai bergerak duduk dan latihan berjalan. Tentu saja bila keadaan ibu cukup stabil dan tidak mengalami komplikasi misalnya tekanan darah tinggi atau pendarahan.

  
DAFTAR PUSTAKA

httphttp://kesehatan.kompasiana.com/ibu-dan-anak/2010/06/25/perawatan-luka-jahitan-setelah-melahirkan-177220.html
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/27290/5/Chapter%20I.pdf
http://riskanurfajriahsetiawan.wordpress.com/18-2/
LevLeveno, Kenneth J. 2009. Obstetri Williams: Panduan Ringkas, Edisi 21. Jakarta: EGC.
WikWiknjosastro, Hanifa. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.